Pukul 15.30 WIB aku sudah tiba di pelataran Masjid Gede Yogyakarta yang sekaligus menjadi titik kumpul acara walking tour yang diadakan oleh Alon Mlampah. Salah satu operator walking tour yang cukup dikenal di Yogyakarta, Alon Mlampah kali ini membuat sebuah program yang menyusuri Kampung Kauman Yogyakarta, menuju Pasar Sore Ramadan
Perjalanan kami awali dari Masjid Gede Kauman, salah satu landmark yang ada di Yogyakarta, berlokasi di dekat Keraton Yogyakarta. Masjid Gede Kauman ini menjadi salah satu masjid utama yang ada di Yogyakarta. Banyak kegiatan keagamaan Islam yang diselenggarakan di sini. Masjid Gede Kauman juga menjadi pelengkap dari Catur Tunggal, sebuah filosofi pembangunan yang cukup dikenal di dalam masyarakat suku Jawa.
Kauman berasal dari kata Kaum atau Pakauman atau tanahnya pakauman yaitu orang-orang yang menjadi pengurus keagamaan di Keraton Yogyakarta. Masjid Gede Kauman dibangun mulai 1773 atau hampir dua puluh tahun setelah Keraton Yogyakarta selesai dibangun. Pembangunan Masjid Gede Kauman dilakukan secara bertahap. Atap Masjid dibangun pada 1773, sementara serambinya mulai dibangun pada 1775. Masjid Gede Kauman ini sekaligus menjadi titik awal dari perjalanan walking tour bersama Alon Mlampah sekaligus punya sejarah erat dengan Pasar Sore Ramadan di Kauman Yogyakarta.

Kami bergeser ke titik selanjutnya yaitu sebuah kompleks makam di sisi barat Masjid Gede Kauman. Kompleks makam yang berada di dalam Kampung Kauman Yogyakarta ini dulunya digunakan untuk menguburkan abdi dalem keagamaan Keraton dan beberapa kerabat dari Sultan Hamengkubuwono. Keberadaan kompleks makam di dekat masjid juga umum ditemukan pada masjid-masjid kuno di daerah Jawa seperti di Kudus dan Demak.
Baca juga: Walking Tour bersama Cerita Bandung
Menurut pencerita dari Alon Mlampah, beberapa waktu yang lalu bangunan yang ada di tengah kompleks makam pernah dibuka. Pada saat itu ditemukan dua buah makam, satu buah makam selir Sultan HB I, dan satu buah makam Sultan HB II. Ada juga makam beberapa pejuang kemerdekaan yang dulu ikut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Di dalam kompleks makam ini juga dimakamkan ibu Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) atau istri dari K.H. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.

Keberadaan makam ini juga sudah terdata oleh peta Belanda pada zaman dulu dan bisa disebut sebagai salah satu kompleks makam tertua di Yogyakarta. Kompleks makam ini saat ini sudah ditutup, maksudnya adalah sudah tidak ada lagi orang yang dimakamkan di kompleks makam tersebut.
Cuaca sore itu sudah mulai mendung, peserta walking tour mulai menyiapkan payung sembari menuju ke tempat selanjutnya yaitu Langgar Kidul.
Langgar Kidul menjadi salah satu langgar tempat pendidikan bagi para penerus abdi dalem keagamaan Keraton. Langgar Kidul ini menjadi saksi perkembangan agama Islam di Yogyakarta. Agama Islam yang dulu dikenal di Yogyakarta adalah Islam Kejawen yaitu Islam yang masih kental dengan budaya-budaya Jawa. Namun, seiring berjalannya waktu, muncullah reformasi agama Islam yang bertujuan untuk mengembalikan kemurnian ajaran Islam seperti aslinya. Reformasi ini dimulai di Langgar Kidul oleh K.H. Ahmad Dahlan. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah dengan menggeser arah kiblat.

Langkah dari beliau ini kemudian menjadi viral dan banyak ditentang oleh agamawan pada zaman itu. K.H. Ahmad Dahlan bahkan dinyatakan sesat pada saat itu Pertentangan ini terjadi karena akan membuat wibawa dari Keraton menjadi turun karena akan mengubah juga arah kiblat dari Masjid Gede Kauman sebagai pusat keagamaan di Yogyakarta. Mungkin karena pada masa itu, adanya kritik dan koreksi dianggap sebagai penghinaan pada saat itu, Keraton dianggap benar absolut. Namun, dengan adanya kritik, dapat membuat masyarakat beranggapan kalau Keraton tidak benar secara mutlak. Inilah yang kemudian menjadi dasar penentangan bagi ajaran K.H. Ahmad Dahlan.


Masuk ke bagian dalam lantai dua dari Langgar Kidul. Bagian lantai dua Langgar Kidul inilah yang menjadi tempat untuk menjalankan salat bagi warga. Selain itu, bagian lantai dua Langgar Kidul ini juga menjadi tempat belajar mengaji bagi anak-anak di sekitar Langgar. Di sini pula menjadi awal K.H. Ahmad Dahlan melakukan perhitungan yang kemudian menjadi dasar perubahan arah kiblat pada masa itu. Dari bagian ini, kita dapat melihat kubah Masjid Gede Kauman. Sebetulnya Langgar Kidul ini tidak mutlak di selatan, tapi di barat daya Masjid Gede Kauman.
Membicarakan K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan, dan perubahan tentu sangat seru. Masih ingat pula ada cerita K.H. Ahmad Dahlan yang menggunakan meja dan kursi untuk belajar. Padahal pada masa itu, penggunaan meja dan kursi yang berasal dari Barat bisa dianggap kafir. Sesimpel itu saja sudah dapat menjadi kontorversi, apalagi mengoreksi arah kiblat bukan?

Dari Langgar Kidul, peserta walking tour Alon Mlampah Pasar Sore Ramadan menyusuri gang-gang di dalam Kampung Kauman Yogyakarta. Kami tiba di tempat selanjutnya yaitu di Kampung Suronatan. Kampung Suronatan merupakan tempat tinggal bagi abdi dalem yang berprofesi sebagai abdi dalem keagamaan sekaligus dibekali senjata untuk pertahanan semi militer.
Bersambung…

[…] Baca cerita sebelumnya tentang Kampung Kauman di sini […]