Jalur kereta api yang dilalui oleh Kereta Siliwangi menjadi salah satu jalur kereta di Pulau Jawa yang cukup unik. Perjalanan dari Bandung ke Sukabumi oleh Kereta Siliwangi akan melintasi Terowongan Lampegan yang sangat legendaris. Selain itu, jalur kereta Bandung Sukabumi juga akan melintas di atas Patahan Lembang yang membuat kereta api harus berjalan dengan batas kecepatan yang sangat rendah.

Perjalanan ini sebetulnya adalah perjalanan mengulang karena aku sudah pernah melakukannya pada tahun lalu. Namun pada saat itu, tidak banyak dokumentasi yang aku ambil sehingga aku memilih untuk mengulang perjalanannya.

Untuk bisa naik kereta api Siliwangi, aku harus menuju ke Stasiun Cipatat di Kabupaten Bandung Barat. Saat ini jalur dari Cipatat ke Bandung belum tersambung sepenuhnya. Dulu memang ada jalur dan kereta yang melintasi, tetapi sekarang jalur dari Cipatat ke Padalarang ditutup karena tidak memungkinkan untuk dilalui kereta api. Isunya, akan dibuatkan jalur baru dari Cipatat menuju ke Plered di Purwakarta agar tersambung dengan jalur Purwakarta-Bandung.

Stasiun Bandung sisi Selatan dengan Monumen Lokomotif
Stasiun Bandung sisi Selatan dengan Monumen Lokomotif
Suasana di Pintu Boarding Stasiun Bandung
Suasana di Pintu Boarding Stasiun Bandung

Tanggal 02 Agustus 2025, pukul 05.00 WIB aku sudah duduk manis di Stasiun Bandung untuk melakukan boarding dan salat Subuh. Perjalanan kali ini harus berangkat sangat pagi karena aku mengincar kereta lokal pertama dari Bandung ke Padalarang. Kereta ini datang tepat sesuai jadwal pada pukul 05.43 WIB. Kereta lokal atau Commuter Line Bandung Raya bertarif Rp5.000 dan menjadi salah satu primadona penglaju dari Bandung ke Padalarang.

Commuter Line Bandung Raya ini menggunakan rangkaian kereta kelas ekonomi dengan susunan bangku 3-2. Total rangkaian yang dibawa adalah tujuh rangkaian kereta. Aku langsung masuk dan duduk di kereta satu atau paling belakang. Karena perjalanan ini sangat pagi, aku berusaha untuk tidur saja.

Kedatangan Kereta Api Lokal Bandung Raya
Kedatangan Kereta Api Lokal Bandung Raya
Disusul Feeder Kereta Api Cepat Jakarta Bandung
Disusul Feeder Kereta Api Cepat Jakarta Bandung

Kereta lokal Bandung Raya sudah tiba di Stasiun Padalarang. Aku menyempatkan untuk mengambil foto sejenak sebelum keluar. Tidak lupa, aku menuju ke toilet untuk buang air kecil. Sebelum melanjutkan perjalanan, aku juga sempat mampir di toko waralaba untuk membeli air mineral sekaligus memecah uang. Perjalanan selanjutnya dari Padalarang ke Cipatat aku memilih untuk naik angkot saja.

Pagi di Stasiun Padalarang
Pagi di Stasiun Padalarang

Sebetulnya, opsi dari Padalarang ke Cipatat bisa menggunakan bus. Tapi bus tidak lewat di depan stasiun sehingga opsi paling murah adalah dengan naik angkot. Angkot yang melayani rute Padalarang ke Cipatat berwarna kuning dengan tujuan akhir Rajamandala. Hati-hati ya, jangan sampai salah naik.

Angkot menuju ke Cipatat ini bisa dibilang cukup untung-untungan. Kadang, angkot akan ngetem dulu di dekat stasiun sampai penumpang penuh. Tapi hari itu, aku cukup beruntung karena angkot hanya berhenti sebentar dan langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Cipatat. Oh, tapi tenang saja, bapak supir angkot ini juga paham jadwal kereta Siliwangi, jadi biasanya mereka sengaja mengincar penumpang seperti aku ini. Makanya, ketika jadwal sudah dirasa mepet, bapak supir angkot akan langsung berangkat tanpa ngetem lagi.

Sudah di Dalam Angkot Kuning Menuju Stasiun Cipatat
Di Dalam Angkot Kuning Menuju Stasiun Cipatat
Deretan Angkot Kuning di Stasiun Cipatat
Deretan Angkot Kuning di Stasiun Cipatat

Perjalanan dari Padalarang ke Cipatat menggunakan angkot kuning ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. Agak jauh dan jalan yang dilalui juga cukup berkelok membuat supir angkot biasanya kesulitan untuk menyalip kendaraan di depannya. Banyak blank spot di jalur ini sehingga supir juga perlu berhati-hati.

Angkot ini biasanya akan masuk ke dalam hingga ke depan stasiun. Namun, saat itu penumpang yang akan ke Stasiun Cipatat hanya aku seorang, angkot tidak masuk dan aku turun di pinggir jalan. Tidak masalah juga karena dari pinggir jalan ini aku hanya perlu jalan kaki kurang lebih 200 meter. Tarifnya Rp12.000. Tapi seingatku saat kali pertama aku mencoba rute ini, tarifnya Rp14.000.

Terdengar raungan suara klakson lokomotif kereta Siliwangi yang baru akan tiba. Aku mempercepat langkahku agar bisa memilih kursi. Di dekat Stasiun Cipatat, terparkir banyak sekali angkot berwarna kuning. Mereka ini biasanya mengincar penumpang kereta Siliwangi yang akan ke Padalarang. Jadi biar sekalian, gitu.

Stasiun Cipatat pemberangkatan awal Kereta Siliwangi
Stasiun Cipatat
Ujung Jalur Sukabumi Bandung di Stasiun Cipatat
Ujung Jalur Sukabumi Bandung di Stasiun Cipatat

Stasiun Cipatat sudah banyak orang bahkan ketika Kereta Siliwangi baru saja tiba. Rencanaku yang akan sarapan nasi kuning di depan stasiun pun buyar karena aku harus segera mengantre. Antrean penumpang yang akan naik juga sudah cukup panjang. Stasiun Cipatat sendiri sangat kecil. Hanya ada 2 jalur kereta dan menjadi ujung dari tujuan kereta Siliwangi. Aku sendiri merasa agak aneh karena stasiun sekecil ini menjadi tempat berhenti kereta dan lokomotif yang berukuran besar.

Begitu selesai pengecekan tiket, aku segera menuju ke kereta ekonomi satu yang letaknya di paling belakang. Transformasi Kereta Siliwangi ini terbilang unik karena kereta ekonomi-1 justru ada di paling belakang. Sengaja aku memilih di sini agar bisa backride sekaligus menjadi kereta paling sepi. Harga tiketnya cukup Rp5.000 saja dan penumpang dibebaskan untuk memilih tempat duduk langsung saat berangkat.

Sesuai dengan istilah perkeretaapian dari KAI, kereta digunakan untuk mengangkut manusia, sementara gerbong untuk barang. Jangan sampai salah lagi, ya.

Kereta meninggalkan Stasiun Cipatat tepat pada pukul 07.55 WIB. Kereta bergerak menuju ke Sukabumi dengan melewati Cianjur. Jalur ini sangat legendaris karena dulu menjadi jalur utama penghubung antara Jakarta, Bogor, dan Bandung. Kereta Siliwangi yang membawaku ke Sukabumi melintasi dua titik penting. Pertama adalah Spot Taspat Abadi di KM 77 dan Terowongan Lampegan.

Peta Rute Perjalanan Kereta Siliwangi dari Bandung ke Sukabumi
Peta Rute Perjalanan Kereta Siliwangi dari Bandung ke Sukabumi

Jalur dari Bandung ke Sukabumi yang dilalui kereta Siliwangi melintasi desa-desa dan perbukitan. Pada beberapa titik sinyal telepon juga sampai hilang. Pemandangannya juga begitu asri dengan hamparan sawah yang luas, perbukitan, dan juga pemandangan gunung yang tampak dari kejauhan. Kereta Siliwangi tiba di Stasiun Cianjur tepat pada waktu 08.41. Stasiun Cianjur menjadi satu dari dua stasiun besar yang ada di lintasan ini. Dari sini, penumpang kereta Siliwangi semakin banyak yang naik. Cukup 3 menit saja kereta Siliwangi berhenti di sini.

Pemandangan Rawa di Jalur Cipatat ke Cianjur
Pemandangan Rawa di Jalur Cipatat ke Cianjur
Sebuah Gunung di Kejauhan
Sebuah Gunung di Kejauhan

Setelah cukup ngebut, Kereta Siliwangi mulai berjalan pelan. Ada petugas dari KAI yang berdiri di bordes (dekat sambungan antarkereta) yang bertugas sebagai kontrol di jalan. Artinya, Kereta Siliwangi akan melintasi salah satu titik yang sangat penting yaitu Spot Taspat Abadi KM 77.

Spot Taspat Abadi KM 77 menjadi salah satu alasan mengapa jalur Bandung-Sukabumi saat ini tidak lagi ramai kereta. Pada titik ini, kereta harus berjalan dengan sangat pelan. Kecepatan kereta api bahkan bisa sampai 5 km/jam saja. Alasannya, karena pada titik di KM 77 ini, rel kereta api berada tepat di atas jalur patahan Sesar Cimandiri. Sesar Cimandiri tergolong sebagai sesar aktif dengan pergerakan 4-6 mm pertahun. Pergerakan dari Sesar Cimandiri ini dapat memengaruhi rel kereta api yang ada di atasnya. Tikungan di Spot Taspat Abadi km 77 juga nyaris zig-zag dengan jarak yang pendek. Inilah mengapa disebut sebagai Taspat Abadi. Taspat dari singkatan Batas Kecepatan. Abadi, karena selamanya kereta harus berjalan perlahan.

Titik Sesar Lembang di Spot Taspat Abadi KM 77
Titik Sesar Lembang di Spot Taspat Abadi KM 77

Kita tinggalkan dulu Spot Taspat Abadi di KM 77 ini. Selanjutnya kereta Siliwangi memasuki daerah yang berbukit-bukit di daerah Cibeber dan Sindangsemi. Daerah yang berbukit-bukit ini membuat jalur kereta api hanya ada satu, sementara di beberapa lokasi sudah menggunakan sistem double track. Keluar dari perbukitan di daerah sini, artinya Kereta Siliwangi tiba di Stasiun Lampegan.

Stasiun Lampegan punya cerita sendiri buatku. Dulu, aku dan teman-teman Kaskusepur pernah sengaja turun di stasiun ini untuk menuju ke Gunung Padang. Ceritanya bisa dibaca di sini. Aku juga pernah menuliskan cerita panjang ke Gunung Padang di blog lamaku yang sudah terkunci. Tidak jauh dari Stasiun Lampegan, kereta Siliwangi akan masuk ke salah satu terowongan legendaris: Terowongan Lampegan.

Terowongan Lampegan adalah terowongan kereta api pertama yang ada di Indonesia. Dibangun oleh Staatspoorwegen (SS) atau perusahaan jawatan kereta api di era kolonial Belanda pada tahun 1879 dan selesai pada tahun 1882. Terowongan Lampegan memiliki panjang hingga 686 meter sekaligus menjadi salah satu terowongan terpanjang yang saat ini masih aktif di Indonesia. Terowongan Lampegan dulunya pernah longsor dan membuat jalur Bandung Sukabumi terputus. Namun pada tahun 2000 terowongan ini telah selesai direnovasi dan menjadi salah satu saksi sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Kereta Siliwangi Tiba di Stasiun Lampegan
Kereta Siliwangi Tiba di Stasiun Lampegan
Kereta Siliwangi Bersiap Masuk Terowongan Lampegan
Kereta Siliwangi Bersiap Masuk Terowongan Lampegan
Potret Anak Sekolah yang Menikmati Suasana Stasiun
Potret Anak Sekolah yang Menikmati Suasana Stasiun

Dari Stasiun Lampegan, kereta Siliwangi melaju cukup kencang karena rel cenderung menurun. Kereta Siliwangi tiba di Stasiun Sukabumi tepat pada pukul 10.10 WIB. Semua penumpang turun. Ada yang memang bertujuan ke Sukabumi, tapi banyak juga yang seperti aku yang akan melanjutkan perjalanan menuju Bogor dengan Kereta Pangrango.

Stasiun Sukabumi yang terletak di dekat pasar membuat stasiun ini sangat penuh dengan manusia. Apalagi saat itu juga sedang cerah sehingga hawa udaranya cukup panas. Jeda waktu antara Kereta Siliwangi yang tiba dengan keberangkatan Kereta Pangrango tidak begitu lama. Aku bergegas untuk keluar dan mengambil beberapa foto lalu segera masuk lagi untuk boarding. Selain itu karena hawa yang cukup panas membuat aku ingin segera masuk ke dalam kereta yang ber-AC.

Stasiun Sukabumi Tujuan Akhir Kereta Api Siliwangi
Stasiun Sukabumi Tujuan Akhir Kereta Api Siliwangi
Kereta Siliwangi di Jalur 3 Stasiun Sukabumi bersiap Kembali ke Arah Bandung
Kereta Siliwangi di Jalur 3 Stasiun Sukabumi
Interior Kereta Pangrango kelas Ekonomi
Interior Kereta Pangrango kelas Ekonomi dari Sukabumi ke Bogor
Stasiun Bogor
Stasiun Bogor

Perjalanan dari Sukabumi menuju Bogor menggunakan Kereta Pangrango tidak begitu banyak yang bisa diceritakan. Alasannya, karena aku langsung tertidur pulas. Saat terbangun, Kereta Pangrango sudah hampir tiba di tujuan akhir yaitu Stasiun Bogor Paledang. Setibanya di Stasiun Bogor Paledang, aku langsung menuju ke skybridge yang menghubungkan Stasiun Bogor Paledang dengan Stasiun Bogor. Skybridge ini baru saja diresmikan oleh KAI untuk membantu penumpang yang akan lanjut menggunakan KRL di Stasiun Bogor agar tidak perlu melewati pasar. Selanjutnya, aku akan melanjutkan perjalanan menuju ke daerah yang dikenal sebagai rock bottom-nya Indonesia: Nambo.

Bisa dibilang, perjalanan naik Kereta Siliwangi dari Bandung ke Sukabumi lanjut ke Bogor ini jadi salah satu favoritku. Hampir bisa dipastikan aku akan mengulangi perjalanan ini lagi suatu saat nanti kalau udah punya istri.

By Gallant Tsany Abdillah

Hai, nama saya Gallant.

One thought on “Naik Kereta Siliwangi, Menghubungkan Jalur Lama Bandung Sukabumi”

Leave a Reply