Salah satu alasan belajar investasi saham adalah agar aku bisa ikut Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS. Selain dapat dividen tentunya. RUPS diselenggarakan sebagai bentuk laporan dari perusahaan kepada para investornya. RUPS biasanya juga diincar oleh banyak investor skala kecil kayak aku soalnya perusahaan suka memberikan suvenir dan tentu saja makan gratis.
Disklaimer dulu ya. Postingan ini hanya bermaksud untuk memberikan cerita tentang pengalaman ikut RUPS dan bukan untuk ajakan membeli suatu entitas saham. Silakan lakukan riset sendiri ya.
Kalau bicara soal saham sih aku sudah tahu dari cukup lama, meski cuma sekadar tahu. Tapi pengetahuanku tentang investasi saham bertambah setelah sosial media menjamur. Banyak sekali informasi yang aku dapatkan mengenai apa itu saham, bagaimana berinvestasi saham, termasuk info seperti dividen, capital gain, dan Rapat Umum Pemegang Saham. Apalagi aku juga berteman dengan Mbak Aqied yang punya gelar magister ekonomi dan suka berbagi info tentang investasi.

Dari yang aku pelajari, aku lebih cocok menganggap saham sebagai bagian dari investasi alias bukan trading. Aku lebih cocok membeli saham di suatu perusahaan lalu ditinggal dan membiarkan uang itu tumbuh. Salah satu perusahaan yang aku percaya untuk aku investasikan adalah Astra dengan kode ASII.
Seperti perusahaan terbuka pada umumnya, Astra juga mengadakan RUPS untuk menginformasikan laporan keuangannya kepada para investor. Nggak cuma investor besar, tapi RUPS ini juga terbuka untuk investor kecil seperti aku yang cuma punya kurang dari lima lot saja pada saat itu.

Inilah enaknya investasi di saham. Aku bisa berinvestasi dengan jumlah kecil (bergantung pada harga saham ya) dan tetap mendapatkan benefit yang sama dengan punya investasi jumlah besar. Aku tetap bisa mendapatkan dividen, yang besarnya menyesuaikan jumlah lot saham yang dimiliki, dan mendapatkan kesempatan untuk ikut RUPS.
Agar aku bisa ikut Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS, tentu aku harus punya dulu sahamnya meski cuma 1 lot. Dalam dunia saham 1 lot berarti 100 lembar saham. Minimal pembelian saham adalah 1 lot. Selanjutnya, akan mendapatkan surat elektronik yang berisikan undangan untuk mengikuti RUPS.
Setelah mendapatkan undangan, aku harus mempunyai aku mengirimkan surat elektronik (surel/email) ke sekuritas tempat aku beli saham tersebut. Di sini, aku menggunakan sekuritas Stockbit (meskipun transaksinya melalui Bibit). Surel yang aku kirimkan berupa sebuah format untuk mendapatkan KTUR yaitu sebuah dokumen yang membuktikan kalau aku benar-benar pemegang saham di perusahaan tersebut. Setelah dapat KTUR, aku tinggal datang pada hari yang telah ditentukan untuk mengikuti RUPS.
Ringkasnya, beginilah cara ikut RUPS:
– Punya saham di perusahaan tersebut meski cuma 1 lot
– Mendapatkan undangan mengikuti RUPS
– Meminta KTUR pada sekuritas dengan format tertentu melalui email
– Datang ke tempat RUPS dengan membawa fotokopi KTP dan KTUR
*****
Hari yang ditentukan tiba. Aku bangun dan mandi lebih awal dari biasanya. Setelah menunaikan salat subuh, aku bergegas menuju ke Stasiun Bandung menggunakan ojek online. Di Stasiun Bandung aku langsung menuju ke tempat untuk naik kereta feeder karena aku akan naik Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh menuju Jakarta. Tiket sudah aku beli beberapa hari sebelumnya. Aku memilih kereta dengan keberangkatan pukul 06.23 dari Stasiun Padalarang.


Sayang sekali, waktu itu aku tiba di Stasiun Bandung pukul 06.00. Karena perjalanan menuju Stasiun Padalarang memerlukan waktu kurang lebih 30 menit, maka aku sudah tidak diizinkan untuk lanjut. Kereta feeder-nya juga sudah berangkat. Aku juga tidak bisa melakukan reschedule karena pembelian melalui aplikasi Access by KAI — beberapa aplikasi bisa reschedule dalam kondisi seperti ini. Mau tidak mau, aku harus merelakan uang tiket dan membeli tiket baru untuk keberangkatan pukul 06.53 WIB dari Stasiun Padalarang.
Aku tiba di Stasiun Padalarang pada pukul 06.30 WIB setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Stasiun Bandung menggunakan kereta feeder. Aku segera mencetak tiket dan menuju area check-in. Penumpang kereta Whoosh sudah diperkenankan untuk menuju peron. Pukul 06.50, kereta cepat Whoosh tiba dari Stasiun Tegalluar. Aku langsung duduk di kursi dan menikmati perjalanan menuju Jakarta yang ditempuh kurang lebih 30 menit saja.


Tiba di Stasiun KCJB Halim, aku segera berjalan menuju ke Stasiun LRT Halim. Untuk naik LRT Jabodebek, aku cuma memerlukan kartu emoney atau etoll. LRT tiba dalam kondisi penuh. Aku nyengir sejenak karena sadar ini adalah hari kerja — aku cuti hari itu, sementara biasanya aku naik LRT pada saat akhir pekan. Tapi karena mau tidak mau, aku mendesak masuk sambil membatin, “Oh ini rasanya jadi pepes di Jakarta. Ini baru LRT, apa kabar KRL?”
Tujuanku selanjutnya adalah stasiun LRT Dukuh Atas. Penumpang LRT sudah banyak yang turun. Kebanyakan turun di sekitar Pancoran atau Kuningan. Dari Stasiun LRT Dukuh Atas, aku dihadapkan pilihan untuk lanjut jalan kaki menuju Stasiun MRT Dukuh Atas dan naik MRT menuju stasiun Setiabudi Astra atau naik ojek online. Aku memilih opsi kedua.
Dari pintu keluar, aku langsung menaiki motor. Agak panik karena sudah pukul 08.00 WIB, sementara di undangan acara akan dimulai pukul 11.00 WIB. Jauh sebelum ini, aku sempat bertanya ke beberapa orang. Mereka bilang pendaftaran RUPS biasanya ditutup 2-3 jam sebelum RUPS dimulai. Tiba di Gedung Menara Astra — sambil takjub dengan megahnya gedung-gedung di Jakarta, aku langsung menuju tempat pendaftaran mengikuti arahan petugas.


Antrean sudah cukup panjang. Petugas menanyakan apakah aku akan ikut masuk atau memilih untuk memberikan kuasa ke Akuntan yang dipercaya oleh perusahaan. Aku masih percaya diri dan memilih untuk ikut masuk ke dalam ruangan rapat. Aku diberikan name tag dengan tali biru.
Sekitar 15-20 menit mengantre, ada informasi kalau ruangan rapat sudah penuh. Tidak ada lagi tempat duduk kosong. Wajar karena ruangan rapat juga terbatas. Ternyata banyak peserta yang sudah datang dan antre sejak subuh tadi. Akhirnya aku memilih mundur dan ganti name tag dengan tali kuning yang artinya aku memilih untuk memberikan kuasa suara ke Akuntan yang dipilih perusahaan.


Petugas dari Astra memberitahu jika aku memberikan suara melalui Akuntan juga tetap mendapatkan suvenir dan makan siang. Karena ini adalah RUPS pertama dan tujuannya hanya biar tahu bagaimana suasananya dan mengincar suvenir dan makan siang, ya sudah aku memilih untuk mundur dan tidak ikut RUPS-nya.
Aku menuju tempat pemberian kuasa dan penukaran suvenir serta makan siang. Kaget juga ternyata antreannya sudah panjang sekali. Aku segera mengambil surat kuasa yang diberikan petugas, mengikuti alur antrean, dan menyiapkan berkas berupa KTUR dan fotokopi KTP yang sudah aku siapkan sebelumnya. Butuh waktu sekitar 2 jam mengantre hingga aku mendapatkan giliran menyerahkan surat kuasa beserta KTUR dan fotokopi KTP. Selanjutnya setelah dilakukan pendataan singkat, aku diberikan satu kotak berisi makan siang dan satu buah totebag berukuran agak besar berisi suvenir. Ini dia yang ditunggu-tunggu, kan?!


Dari sana aku bergegas keluar menuju jalan Sudirman. Di luar, banyak sekali orang yang entah sama sepertiku. Beberapa bahkan sudah membuka makan siang dan makan di pinggir jalan tanpa malu. Di Jakarta memang orangnya cuek, jadi aku juga santai saja. Berhubung aku sedang berpuasa hari itu, aku langsung pulang saja. Aku memesan ojek online dari sana menuju ke pool Cititrans di Jalan Rasuna Said. Sebetulnya bisa naik LRT, tapi aku malas saja.
Tiba di pool Cititrans FX Kuningan, aku langsung membeli tiketnya melalui aplikasi karena ada diskon. Lumayan dari harga Rp180.000 menjadi Rp120.000 kalau beli di aplikasi. Aku sih tidak perlu meragukan kualitas Cititrans ya. Apalagi dulu waktu mudik juga sempat naik Cititrans dari Bandung ke Cirebon. Aku juga pernah naik Cititrans Busline dari Yogyakarta ke Bandung. Keduanya juga sangat memuaskan. Saat travel mulai berangkat, aku langsung tidur dan bangun saat sudah keluar dari gerbang tol Pasteur. Perjalanan seharian yang cukup seru.
