Melanjutkan perjalanan dari Stasiun Cipatat menuju Stasiun Bogor. Aku menuju ke sebuah tempat yang sering disebut sebagai “Rock Bottom”. Yaitu Stasiun Nambo. Salah satu ujung dari perjalanan KRL Jabodetabek. Aku ke sana sekaligus ingin mencoret jalur-jalur rel kereta api di Pulau Jawa yang pernah aku lewati.
Setibanya di Stasiun Bogor Paledang, aku berjalan melewati skywalk yang dibangun melintang dan menghubungkan Stasiun Bogor dengan Stasiun Bogor Paledang. Adanya skywalk ini sungguh memudahkan penumpang kereta Pangrango yang akan melanjutkan perjalanan menggunakan KRL di Stasiun Bogor. Keberadaan skywalk ini juga membuat kereta Pangrango kembali berhenti dan memulai perjalanannya dari Stasiun Bogor Paledang.
Penumpang Kereta Pangrango hampir semua turun di Stasiun Bogor Paledang. Saat aku berangkat dari Sukabumi tadi, sebagian penumpang Kereta Pangrango adalah penumpang terusan dari kereta api Siliwangi, termasuk aku.
Stasiun Bogor Paledang sudah sangat jauh berubah dibanding saat aku ke sana dulu pada tahun 2014 bersama teman-teman Kaskusepur. Seperti dalam postingan tersebut, Stasiun Bogor Paledang tahun 2014 seperti sekadar halte saja. Itupun untuk menuju ke Stasiun Bogor Paledang (dari Stasiun Bogor) harus berjalan kaki melewati pasar. Sejak adanya skywalk, penumpang yang akan menuju Stasiun Bogor dari Stasiun Bogor Paledang (atau sebaliknya) tidak perlu lagi menyeberang jalan dan melewati pasar.

Kondisi Bogor di jam 12 siang itu cukup gerah. Panas sih enggak, ya. Tapi gerah. Setibanya di Stasiun Bogor, aku langsung menuju musala untuk menunaikan salat duhur dan asar sekaligus. Selepas menunaikan salat, sebetulnya aku berencana untuk makan di dalam stasiun saja, tapi karena Stasiun Bogor saat itu sangat padat, aku tidak menemukan tempat duduk untuk makan. Alhasil aku memilih untuk keluar mencari mi ayam saja.
Mi ayam dan es jeruk yang mengisi perutku sudah kusantap habis. Es jeruknya sungguh menyegarkan di Bogor yang gerah saat itu. Aku kembali masuk ke stasiun dan langsung menuju ke salah satu KRL dengan pemberangkatan paling dekat. Stasiun Bogor hanya melayani KRL dengan tujuan ke Jakarta Kota. Aku juga tidak akan turun di stasiun akhir karena aku turun di Stasiun Citayam untuk kemudian menyambung KRL ke Stasiun Nambo.
Tiba di Stasiun Citayam yang ramai banget meskipun saat itu bukanlah hari kerja, aku segera menuju ke jalur seberang. Stasiun Citayam inilah yang menjadi percabangan jalur Manggarai-Bogor dengan Manggarai-Nambo.

Salah satu alasan mengapa orang-orang malas untuk ke Stasiun Nambo adalah karena transportasi KRL-nya sangat jarang. Aku tidak menghitung secara pasti, tapi setidaknya sudah ada lima KRL yang berhenti di Stasiun Citayam dan semuanya menuju ke Bogor. Yang pasti, aku menunggu di Stasiun Citayam dari pukul 13.50 hingga pukul 14.15 hingga akhirnya KRL tujuan Nambo tiba dari arah Manggarai.
Tidak banyak penumpang yang naik di KRL menuju ke Nambo. Kebanyakan penumpang turun di Citayam untuk mengakhiri perjalanan atau berpindah KRL menuju Bogor. KRL dari Stasiun Citayam berbelok ke arah kiri di percabangan, jalur yang semula jalur ganda berganti menjadi jalur tunggal. Artinya, jika ada dua KRL yang berpapasan, maka salah satunya masih harus mengalah. Sebuah anomali di daerah Jabodetabek karena semua jalur di sana sudah ganda. Bahkan, dari Stasiun Bogor Paledang ke Stasiun Sukabumi juga sudah ganda padahal hanya kereta Pangrango saja yang melintasi secara bergantian.


Perjalanan menuju ke Stasiun Nambo melintasi beberapa stasiun seperti Stasiun Pondok Rajeg, Stasiun Cibinong, dan Stasiun Gunung Putri. KRL sendiri hanya berhenti di Stasiun Pondok Rajeg dan Stasiun Cibinong. Sementara Stasiun Gunung Putri hingga tulisan ini dibuat masih berupa halte. Padahal dulu, Stasiun Gunung Putri menjadi salah satu stasiun yang menjadi tempat persinggahan kereta api dari Nambo menuju ke Citayam dan sebaliknya. Namun pada tahun 2016, Stasiun Gunung Putri ditutup dan menunggu untuk reaktivasi.

Akhirnya aku tiba di stasiun yang banyak disebut sebagaiĀ “Rock Bottom”, Stasiun Nambo. Istilah “Rock Bottom” sendiri berasal dari film kartun Spongebob. Dalam salah satu serialnya, Spongebob dan Patrick salah naik bus dan akhirnya menuju ke sebuah tempat antah-berantah bernama Rock Bottom. Keadaan Rock Bottom begitu sepi dan gelap menjadi habitat ikan-ikan yang memiliki bentuk aneh dengan bahasa yang berbeda pula.
Nambo disebut sebagai “Rock Bottom” karena dimiripkan dengan kondisi yang ada pada film kartun tersebut. Setibanya aku di sana, aku benar-benar merasa di dunia yang asing. Sepi, gersang, dan hanya ada pemukiman warga yang menurutku juga tidak istimewa. Hanya ada pabrik semen yang luas berada di sisi lain yang dapat dilihat dari stasiun. Itulah kenapa Nambo disebut sebagai “Rock Bottom”.



Jalur Nambo sendiri sebetulnya dibangun untuk memudahkan kereta angkutan barang. Jalur Nambo dulu direncanakan akan tembus hingga Stasiun Cikarang. Cikarang memang dikenal dengan kawasan yang banyak sekali pabrik, sehingga dengan adanya jalur Nambo yang tembus ke Cikarang, kereta angkutan barang bisa memangkas waktu dan tidak perlu gantian dengan kereta penumpang. Namun, pembangunannya terhenti pada tahun 1990an dan Nambo menjadi stasiun paling ujung. Saat ini mungkin hanya kereta semen saja yang melintasi jalur ini, selain KRL yang jadwalnya sangat renggang itu.

[…] jalan-jalan seharian dari Bandung, mampir ke Bogor, lalu ke Stasiun Nambo, aku langsung pergi ke Stasiun Pasar Senen untuk kembali ke Bandung. Sesuai rencana, perjalanan ini […]