Dari Langgar Kidul, tempat yang sangat bersejarah di Kampung Kauman Yogyakarta, kami menyusuri gang-gang di Kampung Kauman Yogyakarta. Tujuan akhirnya adalah di Pasar Tiban Ramadan, sebuah pasar yang buka pada sore hari, tapi hanya ada saat Bulan Ramadan saja. Sebelumnya, aku diajak ke beberapa lokasi penting lainnya di Kampung Kauman ini.

Kami tiba di Kampung Suronatan, sebuah kampung yang diisi oleh Abdi Dalem yang bertugas untuk urusan keagamaan. Bedanya, di Kampung Suronatan, Abdi Dalem tidak hanya diamanahi untuk urusan keagamaan tapi juga pertahanan. Di Kampung Suronatan ini berdiri sebuah musala kecil yang dari awal berdiri hingga saat ini masih dikelola dan diperuntukkan hanya untuk kaum wanita.

Salah satu bekas Langgar yang ada di Kampung Kauman
Salah satu bekas langgar yang ada di Kampung Kauman
Bagian yang Dulu Menjadi Tempat Imam
Bagian yang Dulu Menjadi Tempat Imam

Baca cerita sebelumnya tentang Kampung Kauman di sini

Pendirian musala ini diinisiasi oleh Nyai Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan seiring dengan semakin masifnya perkembangan Muhammadiyah. Semakin masifnya perkembangan Muhammadiyah, berkembang pula sayap pergerakannya yang khusus perempuan yaitu Aisyiyah. Awal mulanya musala ini berdiri diisi dengan kajian-kajian saja. Kemudian di musala-musala Aisyiyah ini mulai didirikan salat berjamaah yang imam dan makmumnya semua perempuan. Kegiatan salat berjamaah khusus perempuan ini masih eksis hingga sekarang. Namun karena ajaran agama, dalam musala Aisyiyah ini tidak ada azan dan ikamah. Azan dan ikamahnya mengikuti dari masjid sekitar.

Berjalan Menyusuri Kampung Kauman
Berjalan Menyusuri Kampung Kauman
Rumah Klasik dan Motor Vespa Matic Klasik
Rumah Klasik dan Motor Vespa Matic Klasik

Kegiatan di musala-musala Aisyiyah ini semakin berkembang dan tidak hanya untuk kegiatan keagamaan saja. Di sini juga wanita diajarkan berbagai hal termasuk orasi. Pada era itu tentu saja ini adalah sebuah perkembangan pesat untuk kaum perempuan apalagi pada saat itu kaum wanita dianggap tidak memiliki kuasa untuk menentukan nasibnya sendiri. Bahkan menurut penelitian, kegiatan yang ada di musala Aisyiyah ini adalah bentuk dari women empowerment.

Sebelum menuju ke Pasar Tiban Ramadan, kami singgah terlebih dulu di sekolah Muallimat yang berada tak jauh dari musala Aisyiyah. Madrasah Muhammadiyah Muallimat yang berada di Kampung Suronatan adalah sebuah salah satu sekolah tua dan cukup populer yang ada di Yogyakarta. Sudah banyak sekali alumni yang dulunya sekolah di Muallimat. Nama Muallimat juga sudah cukup dikenal di luar-luar Yogyakarta sebagai salah satu pondok pesantren yang memiliki kualitas bagus.

Gerbang Madrasah Muallimat Yogyakarta
Gerbang Madrasah Muallimat Yogyakarta

Berdirinya Madrasah Muallimat sendiri tidak lepas dari peran K.H. Ahmad Dahlan. K.H. Ahmad Dahlan pada saat itu sangat gencar untuk mengembangkan ajaran Muhammadiyah. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan Madrasah Muallimat ini. Dulu, Madrasah Muallimat bernama Qismul Al Aqro yang kemudian berkembang dan berganti nama menjadi Kweekschool Islam Muhammadiyah (Sekolah Pendidikan Islam Muhammadiyah) pada tahun 1924. Lokasinya yang ada di Suronatan juga dipilih agar berdekatan dengan pesantren utamanya yang ada di Langgar Kidul.

Selanjutnya Kweekschool Islam Muhammadiyah ini dipecah menjadi dua menurut gender pada tahun 1926. Untuk santri laki-laki bersekolah di Madrasah Muallimin di Wirobrajan, sementara untuk santri perempuan bersekolah Madrasah Muallimat di Notoprajan. K.H. Ahmad Dahlan sengaja mendirikan sekolah-sekolah ini untuk dapat mencetak guru-guru bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah yang lain sekaligus Pondok Pesantren Muhammadiyah. Sekolah Muallimin dan Muallimat ini masih menganut aturan libur sekolah pada hari Jumat.

Langit semakin gelap dan hujan mulai turun rintik-rintik. Kami bergegas menuju Masjid Taqwa Suronatan. Masjid Taqwa Suronatan ini berdiri seiring dengan adanya APS (Askar Perang Sabilillah) yang bergerak di ranah militer. APS ini juga turut membantu Indonesia pada saat Agresi Militer Satu maupun Dua. Adanya Masjid Taqwa Suronatan ini juga sebagai tempat pengukuhan APS oleh Sultan Hamengkubuwono IX pada masa itu.

Tak jauh dari Masjid Taqwa kami menuju ke SD Muhammadiyah Suronatan. Saat sedang dijelaskan tentang sejarah SD Muhammadiyah Suronatan, hujan deras turun. Kami langsung menggunakan payung yang sudah kami siapkan.

SD Muhammadiyah Suronatan sendiri sudah didirikan sejak tahun 1918 oleh K.H. Ahmad Dahlan dan merupakan pecahan dari kompleks pendidikan seperti yang ada di Langgar Kidul. Jika di Kauman difokuskan untuk pendidikan murid perempuan, maka di SD Muhammadiyah Suronatan ini untuk murid laki-laki.

Proses K.H. Ahmad Dahlan untuk mendirikan sekolah tidaklah mudah. K.H. Ahmad Dahlan awalnya hanya mendapatkan izin dari Belanda untuk membangun sekolah dasar. SD Muhammadiyah Suronatan inilah sekolah dasar yang dimaksud. Saat ini, SD Muhammadiyah Suronatan sudah mengalami perubahan yang sangat masif. Bangunan yang awal dibangun sudah hilang dan kini menjadi bangunan sekolah modern.

Hujan langsung turun dengan deras. Aku segera mengamankan ponsel, membuka payung, dan berteduh sejenak di dalam area SD Muhammadiyah Suronatan.

Penjual di Pasar Tiban Yogyakarta
Penjual di Pasar Tiban Yogyakarta
Aneka Jajanan di Pasar Tiban Yogyakarta
Aneka Jajanan di Pasar Tiban Yogyakarta

Hujan sedikit mereda membuat kami dapat melanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Tiban Ramadan yang tidak jauh dari sana. Dulu, aku pernah mengikuti acara serupa yang mengenalkanku dengan Pasar Tiban ini. Pasar Tiban Ramadan ini hanya ada pada saat bulan Ramadan dan buka saat sore menjelang berbuka puasa. Di Pasar ini banyak dijual jajanan khas yang hanya ada saat Ramadan. Seperti Kipo, Bubur Saren, hingga Kicak. Sayangnya, baterai kameraku habis membuatku tidak bisa memotret makanan-makanan tersebut.

Banyak Jajanan di Pasar Tiban Yogyakarta
Banyak Jajanan di Pasar Tiban Yogyakarta
Surga Jajanan di Pasar Tiban Yogyakarta
Surga Jajanan di Pasar Tiban Yogyakarta
Kicak, Salah Satu Jajanan yang Khas di Pasar Tiban Yogyakarta
Kicak, Salah Satu Jajanan yang Khas di Pasar Tiban Yogyakarta

Sebelum perjalanan diakhiri, kami dijelaskan mengenai sebuah keunikan di Kauman yaitu gang, jepitan, dan butulan. Gang, Butulan, dan Jepitan adalah elemen penghubung di dalam Kampung Kauman. Seperti yang kita tahu, gang adalah sebuah jalan kecil di antara perkampungan. Namun di Kampung Kauman terdapat dua elemen lain yaitu Butulan dan Jepitan. Butulan adalah pintu yang menghubungkan dua rumah. Selain pintu, dalam Butulan juga ada elemen penghubung lain berupa jembatan. Sementara Jepitan adalah ruang di antara dua rumah. Keunikan koneksi antarrumah ini bahkan menjadi obyek penelitian yang bisa teman-teman googling.

Salah Satu Bagian dari Gang, Jepitan, dan Butulan yang ada di Kampung Kauman Yogyakarta
Salah Satu Bagian dari Gang, Jepitan, dan Butulan yang ada di Kampung Kauman Yogyakarta
Jajanan yang Aku beli di Pasar Tiban Yogyakarta
Jajanan yang Aku beli di Pasar Tiban Yogyakarta (Kicak, Kipo, dan Jadah Manten)

Kami kemudian kembali ke Langgar Kidul, menghamparkan makanan yang sudah kami beli di Pasar Tiban Yogyakarta tadi. Sembari berbuka puasa, kami bercengkerama dan membahas tentang keunikan makanan yang dijual di pasar yang sudah ada sejak tahun 1970an itu. Rasanya aku sendiri masih penasaran karena merasa masih banyak sejarah yang perlu diceritakan di Kampung Kauman.

By Gallant Tsany Abdillah

Hai, nama saya Gallant.

Leave a Reply