Kalau jalan-jalan ke Bandung dan main ke Jalan Asia Afrika, Hotel Savoy Homann pasti menjadi salah satu bangunan yang menarik perhatian. Salah satu hotel pertama yang ada di Bandung ini memang sangat unik dari segi arsitekturnya. Bentuk fasad luarnya yang melengkung, berbentuk seperti ombak, seakan tanpa sudut. Berbeda dengan kebanyakan bangunan yang ada di sekitarnya yang berbentuk kotak-kotak pada umumnya.
Selain dari segi arsitekturnya, Hotel Savoy Homann yang berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka ini juga menjadi salah satu saksi sejarah negeri ini. Saat penyelenggaraan KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Asia Afrika yang pertama kali digelar di Bandung, hotel ini menjadi tempat persinggahan bagi para tamunya. Sejak itu, Hotel Savoy Homann sering menjadi tempat menginap dan singgah orang-orang penting.

Kalau dilihat dari berbagai aplikasi atau website pemesanan hotel, harga permalamnya cukup mahal. Wajar sih, karena hotel tersebut bisa digolongkan sebagai hotel bintang lima dengan segala sejarahnya. Untuk menginap di sana, mungkin aku belum sanggup. Tapi beruntung, karena Ceritabandung membuat sebuah acara di sana. Ceritabandung mengajak siapapun untuk datang dan belajar sejarah menarik dari Hotel Savoy Homann.
Mulanya, aku tahu info tersebut dari postingan Instagram Ceritabandung. Aku sendiri langsung tertarik karena aku pikir kapan lagi bisa masuk ke salah satu hotel penuh sejarah di Bandung. Ya, meskipun tidak menginap, setidaknya aku pernah masuk dan melihat-lihat bagian dalam hotelnya.
Tiba di lobi hotel setelah naik ojek online. Aku segera menuju ke tempat registrasi untuk melakukan registrasi ulang. Aku segera menulis nama, menuliskan tanda kehadiran, dan dipersilakan untuk duduk di salah satu area restoran. Tidak ada yang aku kenal sama sekali karena Riyani yang biasanya ikut sedang menempuh S2 di Universitas Indonesia.

Acara dibuka dengan sambutan dari pihak hotel dan selanjutnya diberikan pengantar sedikit dari tim Ceritabandung. Salah satu pengantar yang sangat ditunggu-tunggu adalah masuk ke kamar nomor 244, tempat singgah dan menginap Bapak Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Ya, betul, salah satu tempat yang sangat legendaris di hotel ini adalah kamar nomor 244 tersebut dan kami akan diberi kesempatan untuk masuk dan melihat seperti apa bentuk kamar nomor 244 tersebut.
Kami dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompokku diminta untuk langsung berkumpul di depan meja resepsionis. Di dekat meja resepsionis, terdapat sebuah piano yang dipajang. Piano ini sudah sangat lama, tapi masih bisa berfungsi dengan baik. Piano ini juga menjadi salah satu benda bersejarah di hotel ini karena dulu ikon lawak dunia, Charlie Chaplin pernah mabuk dan berdansa di depan piano tersebut. Belum apa-apa, kami sudah diberikan sebuah fakta yang menarik.



Bagian resepsionis hotel Savoy Homann juga ada cerita yang menarik. Saat masih awal dulu, meja resepsionis dijaga oleh anaknya. Namun, anaknya lebih sering kabur dan bermain dengan anak-anak pribumi di kampung belakang hotel. Anak pemilik hotel menempatkan burung Beo untuk menjaga resepsionis. Burung Beo, seperti yang kita tahu, bisa menirukan suara manusia, sama juga dengan hotel Beo milik anak pemilik hotel. Lucunya, burung tersebut tidak menyambut tamu dengan kalimat yang sopan, melainkan, “Setan gunung, setan gunung. Saya mau pinjam sepuluh perak.”
Masih di area lobi utama hotel. Terdapat sebuah buku yang cukup tua. Buku tersebut dulunya digunakan sebagai buku tamu. Orang-orang penting yang menginap di hotel seperti Sultan Mangukenegaran, Sultan Pakubuwana, Sultan dari Sumatera, hingga Raja dari Kerjaan Siam (Thailand sekarang) menuliskan namanya di buku tersebut. Di dekat pintu keluar juga terdapat peta lawas rute rel kereta api Pulau Jawa. Adanya peta rute tersebut menunjukkan bagaimana kota-kota bisa berkembang seiring dengan pembangungan stasiun di kota tersebut. Sejak dulu, hotel Savoy juga dijadikan tempat persinggahan dan pertemuan para pengusaha pabrik gula. Pada bagian atas pintu keluar hotel juga terdapat sebuah kalimat yang ditulis dalam bahasa latin, yang memiliki arti “Semoga Kamu Tiba Dalam Keadaan Selamat”.


Kami lalu beranjak ke lantai atas. Inilah lokasi kamar-kamar hotel yang sebenarnya. Di lantai satu, tepatnya di kamar nomor 144, adalah kamar kelasĀ suite yang dulunya digunakan sebagai kamar perdana menteri India, Jawaharlal Nehru pada saat Konferensi Asia Afrika (KAA).
Kami lanjut ke lantai dua, kamar nomor 244. Salah satu kamar yang paling bersejarah di hotel Savoy Homann. Ini adalah salah satu kamar yang paling diincar karena di sinilah dulu Presiden Soekarno menginap saat KTT Asia Afrika. Dari balkon, Presiden Soekarno dapat memantau secara langsung persiapan KAA yang ada di Gedung Merdeka. Posisinya sangat strategis sehingga siapapun yang menginap di kamar ini juga bisa menikmati sunset.
Saat ini, kamar 244 masih dibuka untuk umum. Siapapun bisa mengunjungi dan menginap di kamar suite ini. Kamar ini luas. Hingga terdapat dua ruangan tidur dan dua kamar mandi di dalamnya. Dulu, Presiden Soekarno tidak menginap sendirian melainkan dengan timnya. Harga permalamnya, saat ini sekitar 5-7 juta rupiah untuk kamar kelas suite ini.



Di lantai dua ini juga terdapat kamar-kamar yang dulu digunakan untuk menginap para sultan beserta keluarganya. Dari cerita, tidak ada kamar spesifik tempat mereka menginap. Ada hal unik ketika para sultan dan keluarganya menginap. Dulu, anak-anak sultan suka melemparkan koin-koin perak dari balkon kamar. Sementara di bawahnya para rakyat jelata menunggu. Koin-koin perak ini dulu sangat berharga.
Selanjutnya kami diajak untuk masuk ke kamar yang dulunya tempat Charlie Chaplin. Kamar Charlie Chaplin tidak semewah kamar Bung Karno. Mungkin satu grade di bawahnya. Kamar Charlie Chaplin pada lantai tiga. Dari tiga kali kunjungan Charlie Chaplin ke Bandung, ketiganya bersama dengan pasangan yang berbeda. Namun, yang paling terkenal saat itu Charlie Chaplin datang bersama Marry Picford yang juga artis pada saat itu.

Sebagai pemilik sekaligus pendiri hotel, keluarga Homann juga memiliki rumah yang terletak di belakang bangunan hotel. Sebelum ke sana, kami berhenti dulu di restoran yang lokasinya tepat di tengah bangunan hotel. Layout restoran juga masih dipertahankan hingga sekarang. Di restoran hotel inilah awal mula dikenal gaya makan Rijstaffel.
Gaya makan Rijstaffel adalah gaya makan yang dikenalkan oleh orang Belanda. Dalam gaya makan tersebut disajikan semua sajian makanan yang dimasak. Tentu saja dengan tetap mempertahankan tradisi makanan pembuka, utama, dan penutup. Di hotel Homann ini sajian Rijstaffel menghadirkan hingga 60 menu-menu yang kebanyakan makanan Eropa. Hingga saat ini, hotel Homann masih mempertahankan gaya Rijstaffel ini, tetapi siapapun yang ingin merasakannya harus melakukan reservasi terlebih dulu.



Nah, sebagai bentuk perlawanan akan gaya makan ini, orang-orang Sumatera Barat juga menghadirkan gaya makan yang sama, tapi menghadirkan menu-menu masakan Padang. Oleh sebab itu, di restoran atau Rumah Makan Padang, kalau kita makan di tempat, seringnya disajikan semua menu dalam piring. Kita cukup memakan yang kita inginkan saja.
Sekarang, kami sudah berada di rumah keluarga Homann. Keluarga Homann adalah keturunan Jerman yang mendirikan hotel ini. Sebelum hotel ini dibangun dengan semegah ini, dulu awalnya hotel ini hanyalah berbentuk bilik-bilik yang lebih mirip hotel melati saat ini. Namun, ya pada saat itu memang belum banyak hotel khususnya yang ada di Bandung. Rumah Keluarga Homann sendiri ada di bagian belakang hotel. Tidak terpisahkan dari bangunan utama meskipun saat ini sudah tidak lagi berbentuk rumah, tidak ada lagi perabotan, dengan dua lantainya. Saat ini dipertahankan sebagai bangunan bersejarah saja.

Kami diajak juga untuk masuk ke dalam sebuah ballroom. Ruangan yang cukup besar ini dulu pernah digunakan sebagai tempat pesta. Kami ditunjukkan sebuah foto. Dalam foto tersebut tampak beberapa orang sedang berjoget. Secara kebetulan, acara dalam foto tersebut digelar pada tahun 1925. Artinya, tepat seratus tahun kemudian aku datang ke dalam ruangan yang sama dengan acara tersebut.


Sebagai penutup rangkaian cerita, kami diajak melihat sebuah mobil tua yang terparkir. Mobil dengan plat nomor D 1658 DE ini adalah aset resmi dari hotel Savoy Homann yang usianya tidak kalah tua dengan bangunan hotelnya. Saat ini mobil ini sudah dirombak, diganti segala permesinannya agar tetap bisa digunakan. Pajak-pajaknya juga selalu dibayar dan bisa disewa baik untuk foto atau dikendarai.


Hotel Savoy Homann ini begitu mewah dan luas. Sekarang aku baru diberi kesempatan untuk datang dan belajar sejarahnya. Mungkin, kapan-kapan ada kesempatan buat menginap di sini? Ya siapa tahu, kan.
