Sekarang, perjalanan dari Bandung ke Banyuwangi sudah semakin mudah dengan adanya kereta yang langsung menghubungkan Bandung dan Banyuwangi tanpa transit. Kereta Sangkuriang menjadi satu-satunya kereta yang menghubungkan Bandung dan Banyuwangi tanpa transit, sekaligus menjadi kereta dengan rute terpanjang kedua setelah Blambangan Ekspres. Perjalanan perdana kereta Sangkuriang dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 2026 kemarin. Aku sukses untuk bisa ikut perjalanan perdananya.


Pengumuman perjalanan perdana Kereta Sangkuriang dilakukan beberapa minggu sebelumnya. Aku tidak langsung memesan tiket karena ingin mencari informasi konfigurasi urutan keretanya. Namun, setelah melakukan pengecekan di aplikasi, kursi kelas eksekutif sudah ludes dan sisa yang ekonomi. Tanpa pikir panjang, aku segera memesan dan membayar pesananku. Perjalanan perdana ini sangat ramai karena Sangkuriang menjadi kereta pertama dan satu-satunya yang memiliki rute dari Bandung ke Banyuwangi tanpa perlu transit terlebih dulu. Ditambah lagi, pada perjalanan perdananya, KAI memberikan diskon 50% untuk semua kelas. Jadi ya kapan lagi naik kereta api kelas Ekonomi Premium sejauh itu dengan harga hanya Rp250.000 saja.

Perjalanan Panjang Kereta Sangkuriang Bandung Banyuwangi dengan 3 Kelas
Kereta Sangkuriang membawa tiga kelas kereta setiap harinya, yaitu Kelas Ekonomi Premium yang paling murah, kelas Eksekutif, dan kelas Compartement Suite yang paling mahal. Untuk konfigurasinya, dari stasiun Bandung urutannya adalah Lokomotif, Kereta Compartement Suite, Eksekutif, dan Ekonomi Premium berada di paling belakang. Urutan ini bertahan dari Bandung hingga Surabaya karena setelah di Surabaya nanti posisi lokomotif akan diubah. Otomatis, kereta Ekonomi Premium akan berada di bagian paling depan.
Kelas Ekonomi Premium
Kereta Ekonomi Premium menggunakan kursi yang sudah tidak terlalu tegak, berjumlah 80 kursi. Konfigurasinya dua baris di sisi kanan dan dua baris di sisi kiri. Sebelas deret baris kereta kelas Ekonomi Premium akan maju searah dengan kereta, sementara sebelas lainnya akan mundur. Sayangnya, hingga saat ini masih belum ada pola yang tetap kursi berapa yang akan maju dan berapa yang akan mundur. Oleh karena itu, untuk kelas ini masih nggak bisa ditentukan apakah penumpang akan maju atau mundur.


Penumpang kereta Sangkuriang kelas Ekonomi Premium yang ikut full trip akan merasakan dua posisi yaitu maju dan mundur. Hal ini disebabkan karena ketika di Surabaya, posisi lokomotif akan diubah.
Meskipun namanya ekonomi, tapi sudah tidak seperti kereta ekonomi yang dulu dikenal dengan kursi tegaknya itu. Kursinya sudah bisa diubah posisi sandarannya. Secara default juga kursinya sudah bersudut 100° sehingga nggak terlalu tegak juga. Masih cukup nyaman untuk perjalanan dari Bandung ke Banyuwangi
Kelas Eksekutif
Kereta Sangkuriang juga membawa kelas Eksekutif yang masih model lama. Menggunakan kursi berwarna biru dengan fasilitas foot rest dan meja kecil di setiap kursinya. Kursinya juga bisa diubah sudut sandarannya. Jumlah masing-masing kereta ada lima puluh kursi. Dengan jumlah yang lebih sedikit membuat kereta Sangkuriang kelas Eksekutif ini memiliki ruang kaki atau leg room yang lebih lega dibanding kelas Ekonomi.

Kelas Compartement Suite
Terakhir, dalam perjalanan dari Bandung ke Banyuwangi, kereta Sangkuriang juga membawa kelas Compartement Suite sebagai kelas tertinggi. Harganya juga paling mahal, menyentuh angka dua juta rupiah untuk satu kali perjalanan dari Bandung ke Banyuwangi. Namun, dengan harga semahal itu, fasilitas yang didapatkan tentu mewah juga. Mulai dari welcome drink, ruangan kompartemen yang hanya memiliki satu kursi saja. Kursi super premium. Hingga layanan luxury lounge saat di stasiun. Yah, hampir sama dengan di hotel, lah.
Kalau dari aku sendiri, rasanya dengan tawaran pemandangan selama perjalanan dari Bandung ke Banyuwangi, akan lebih cocok jika kereta yang dibawa adalah kelas Panoramic saja.
Oh iya, untuk kursi kelas Eksekutif dan Compartement Suite ini semuanya bisa diputar. Jadi penumpang bisa menyesuaikan posisi kursi sesuai arah laju kereta.
Dalam perjalanan perdana ini, aku sukses mengamankan tiket kelas Ekonomi Premium saja.


Menggunakan Mode Malam dan Salat Tetap Aman
Seperti kereta pada umumnya, Sangkuriang juga terdapat kereta makan atau restorasi yang berada di antara kereta kelas Eksekutif dan Ekonomi Premium. Kereta Restorasi di Sangkuriang ini menggunakan kereta restorasi eksekutif yang cukup nyaman. Di kereta restorasi atau kereta makan juga terdapat musala kecil sebagai tempat salat bagi penumpang yang beragama Islam. Ada fasilitas sandal wudunya juga, lho. Tapi untuk berwudu, kita tetap harus ke toilet yang ada di kereta Eksekutif atau Ekonomi Premium.



Kereta Sangkuriang juga menggunakan mode malam yang akan diaktifkan pada pukul 22.00 WIB. Mode malam ini membuat semua kelas kereta, kecuali kereta makan, menjadi redup. Tingkat cahaya yang redup ini sangat menunjang untuk tidur. Perjalanan panjang menempuh seribu kilometer, tentu istirahat menjadi sangat penting agar esok bisa langsung jalan-jalan atau beraktivitas.

Sangkuriang, Cerita Legenda dari Jawa Barat
Nama kereta Sangkuriang diambil dari sebuah legenda yang cukup terkenal dari Jawa Barat. Cerita legenda yang dimaksud adalah legenda Tangkuban perahu. Sangkuriang adalah tokoh utama dalam cerita tersebut. Sebetulnya, aku sendiri agak heran dengan pemilihan namanya. Soalnya, tokoh Sangkuriang dan cerita legenda Tangkuban Perahu ini bisa dibilang agak mencurigakan. Dalam ceritanya, Sangkuriang adalah seorang anak yang akan menikahi ibunya yang bernama Dayang Sumbi. Tentu ini bukan hal yang baik, kan.
Perjalanan Seribu Kilometer dari Bandung ke Banyuwangi dengan Kereta Sangkuriang
Jumat siang itu aku segera berangkat ke Stasiun Bandung yang siang itu cukup ramai. Perjalanan perdana kereta Sangkuriang dari Bandung ke Banyuwangi memang cukup menyita perhatian, khususnya bagi para pecinta kereta api. Bahkan tiketnya juga ludes terjual. Perjalanan dari Bandung ke Banyuwangi berjarak hingga seribu kilometer. Kereta Sangkuriang sekaligus menjadi kereta dengan rute terjauh kedua setelah Kereta Blambangan Ekspres dari Jakarta Pasar Senen ke Ketapang.
Proses check in juga tidak ada kendala. Aku sendiri sengaja mencetak boarding pass sebagai kenang-kenangan. Padahal biasanya aku menggunakan fitur face recognition jika naik kereta. Kereta Sangkuriang sudah dipersiapkan di Jalur 4 Stasiun Bandung. Tampak banyak sekali pecinta kereta api dan para content creator yang mengambil foto maupun video untuk kebutuhan konten sosial media mereka.
Perjalanan dengan Kereta Sangkuriang dari Bandung ke Banyuwangi
Perjalanan diberangkatkan tepat pukul 14.45 WIB sesuai jadwal dan dijadwalkan tiba di Stasiun Ketapang pada pukul 06.52 WIB keesokan harinya. Total waktu perjalanan kurang lebih 18 jam perjalanan. Meskipun sangat lama, tapi aku cukup menikmati perjalanan ini. Jadwal kereta api Sangkuriang sendiri menurutku sudah sangat tepat. Baik dari Bandung maupun Ketapang, kereta Sangkuriang diberangkatkan sekitar pukul 15.00 sore. Artinya penumpang bisa check out hotel dengan tenang. Pun ketika tiba di stasiun akhir sudah pagi sehingga penumpang bisa langsung jalan-jalan.




Sebagai kereta baru, Sangkuriang terpaksa harus mengalah dengan kereta-kereta reguler lainnya seperti Malabar dan Argo Wilis. Kereta Sangkuriang dari Bandung akan bersilang dengan kereta Argo Wilis di Stasiun Cipendeuy sekaligus momen untuk pengecekan kereta. Momen ini sekaligus dimanfaatkan untuk jajan bagi para penumpang. Di Stasiun Bumiwaluya, kereta Sangkuriang harus mengalah dengan Malabar. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh pecinta kereta api. Mereka sebagian besar turun untuk mengabadikan momen silang ini.
Dalam perjalanan, seluruh penumpang yang naik dari Stasiun Bandung diberikan bingkisan. Spesial untuk perjalanan perdana. Sungguh pengalaman yang menarik sih. Selain itu, sebelum diberangkatkan, ternyata ada acara seremonialnya juga sekaligus pembukaan Luxury Lounge baru di Stasiun Bandung. Sayang aku melewatkan acara ini. Eh, tapi mungkin acara ini untuk undangan saja ya.

Melewatkan Beberapa Stasiun Penting
Ada yang unik saat aku mengikuti perjalanan perdana kereta Sangkuriang dari Bandung ke Ketapang, Banyuwangi. Kereta Sangkuriang ini ternyata tidak berhenti di beberapa stasiun penting. Stasiun-stasiun penting yang dilewati antara lain Stasiun Kiaracondong, Stasiun Kebumen, Stasiun Klaten, Stasiun Nganjuk, hingga Stasiun Rogojampi. Paling kaget ya ternyata Stasiun Kiaracondong dan Rogojampi yang di-skip. Stasiun Kiaracondong, Klaten, dan Rogojampi biasanya adalah kantung-kantung penumpang di jalur selatan.

Penumpang di Bandung timur tentu terlalu jauh jika harus naik dari Stasiun Bandung. Sementara Stasiun Rogojampi biasanya menjadi kantung bagi penumpang asal Genteng atau pendaki yang akan naik ke Gunung Raung. Mungkin karena ini baru perjalanan perdana dan akan sangat mungkin dilakukan evaluasi nantinya. Aku sih berharapnya, Sangkuriang tetap ada naik turun penumpang di Stasiun Kiaracondong dan Rogojampi.


Kereta api Sangkuriang tiba di Stasiun Ketapang pukul 06.52 WIB, tepat sesuai jadwal. Perjalanan panjangku dari Bandung ke Banyuwangi menggunakan kereta Sangkuriang resmi berakhir ketika tiba di Stasiun Ketapang, sekaligus stasiun paling timur di Pulau Jawa.
